Pakaian Adat Aceh dan Penjelasannya
Pakaian Adat Aceh untuk Laki-laki
Setiap pakaian daerah memang umumnya dibuat macam yaitu untuk laki-laki dan wanita. Model keduanya tentu berbeda.Warna
Warna pakaian adat Aceh untuk kaum pria adalah hitam. Warna hitam menggambarkan kebesaran. Saat seorang warga Aceh menggunakan pakaian adat berwarna hitam tersebut, maka orang tersebut dianggap sedang menggunakan pakaian kebesaran. Berbeda sekali dengan di daerah atau negara lain. Warna hitam digunakan dalam suasana berkabung.Dalam acara-acara khusus seperti acara adat atau perkawinan, setiap laki-laki Aceh harus menggunakan pakaian dengan warna hitam baik baju atau celana. Tidak boleh menggunakan pakaian dengan warna yang lain. Namun untuk acara-acara biasa tentu boleh menggunakan pakaian sesuai selera.

Bagian-bagian Pakaian Adat untuk Laki-laki
Pakaian Adat Aceh untuk laiki-laki terdiri dari beberapa bagian dan aksesoris tambahan. Paling tidak pakaian adat Aceh untuk laki-laki terdiri dari lima bagian yaitu:- Baju
- Celana
- Kopiah
- Kain Sarung
- Rencong
Pakaian Adat Aceh untuk Perempuan
Warna
Warna pakaian adat Aceh untuk perempuan berbeda dengan laki-laki. Untuk perempuan warna yang digunakan lebih cerah seperti merah, hijau, kuning atau lainnya. Namun warna celana yang digunakan tetap berwarna hitam. Di zaman sekarang, sudah banyak terjadi modifikasi sehingga warna celana kadang bukan lagi hitam.Bagian-bagian Pakaian Adat Aceh untuk Perempuan
Bagian pakaian adat Aceh untuk perempuan adalah sebagai berikut:- Baju (bajeee)
- Celana (sileuweu)
- Sarung (ija krong)
- Perhiasan
Itulah penjelasan mengenai pakaian adat Aceh. Pakaian adat Aceh seperti ini akan sering kita jumpai di acara pernikahan masyarakat Aceh.
Home » 1. Sumatera » Pakaian Adat » Pakaian Adat Aceh, Nama, Gambar, dan
Penjelasannya
Pakaian Adat Aceh, Nama, Gambar, dan Penjelasannya
Administrator
Add Comment
1. Sumatera, Pakaian Adat
Selasa, 31 Mei 2016
Pakaian Adat Aceh - Nangroe Aceh Darussalam (NAD) adalah salah satu
provinsi di Indonesia yang terletak di ujung barat pulau Sumatera.
Provinsi ini mendapat julukan serambi mekah karena adat kebudayaannya
yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam dari jazirah Arab. Salah
satu budaya dalam adat Nangroe Aceh Darussalam yang bernafaskan budaya
Islam misalnya dapat kita temukan pada gaya berpakaiannya. Pakaian adat
Aceh baik untuk pria maupun wanitanya merupakan akulturasi budaya melayu
dan budaya Islam sehingga sangat unik dan sayang untuk dilewatkan.
Berikut, tim penulis Blog Adat Tradisional akan mengulas pakaian adat
dari tanah kelahiran pahlawan nasional Cut Nyak Dien ini.
Pakaian Adat Aceh
Pakaian adat Aceh untuk pria disebut Linto Baro, sementara yang untuk
wanita disebut Daro Baro. Kedua pakaian tersebut memiliki ciri khas pada
setiap bagian-bagiannya. Anda bisa melihat karakteristik dari
bagian-bagian pakaian adat Aceh tersebut pada gambar di bawah ini.
Pakaian Adat Aceh
Pakaian Adat Aceh untuk Pengantin Laki-laki
Linto Baro dahulunya merupakan pakaian adat yang dikenakan oleh pria
dewasa saat menghadiri upacara adat atau upacara kepemerintahan. Pakaian
ini diperkirakan mulai ada sejak zaman kerajaan Perlak dan Samudra
Pasai.
Baju Linto Baro sendiri terdiri atas baju atasan yang disebut baju
Meukasah, celana panjang yang disebut siluweu, kain sarung bernama ijo
krong, sebilah siwah atau rencong yang menjadi senjata tradisional khas
Aceh, serta tutup kepala bernama Meukeutop.
1. Baju Meukeusah
Baju meukeusah adalah baju yang terbuat dari tenunan kain sutra yang
biasanya memiliki warna dasar hitam. Warna hitam dalam kepercayaan adat
Aceh disebut sebagai perlambang kebesaran. Oleh karena itulah tak jarang
baju Meukeusah ini dianggap sebagai baju kebesaran adat Aceh.
Pada baju meukeusah kita dapat menemukan sulaman benang emas yang mirip
seperti kerah baju China. Kerah dengan bentuk tersebut diperkirakan
karena adanya asimilasi budaya aceh dengan budaya China yang dibawa oleh
para pelaut dan pedagang China di masa silam.
2. Celana Sileuweu
Sama seperti baju, celana panjang yang dikenakan pada pakaian adat Aceh
untuk laki-laki juga berwarna hitam. Akan tetapi, celana atau dalam
Bahasa Aceh disebt Sileuweu ini dibuat dari bahan kain katun. Beberapa
sumber menyebut nama celana ini adalah Celana Cekak Musang. Celana khas
dari adat Melayu.
Sebagai penambah kewibawaan, celana cekak musang dilengkapi dengan
penggunaan sarung dari kain songket berbahan sutra. Kain sarung yang
bernama Ija Lamgugap, Ija krong, atau ija sangket tersebut diikatkan ke
pinggang dengan panjang sebatas lutut atau 10 cm di atas lutut.
3. Tutup Kepala
Pengaruh budaya Islam dalam adat Aceh juga terasa dengan adanya kopiah
sebagai penutup kepala pelengkap pakaian adat Aceh. Kopiah ini bernama
Meukeutop. Meukotop adalah kopiah lonjong ke atas yang dilengkapi dengan
lilitan Tangkulok, sebuah lilitan dari tenunan sutra berhias bintang
persegi 8 dari bahan emas atau kuningan. Anda bisa melihat bagaimana
bentuk Meukotop pada gambar di bawah ini.
Pakaian Adat Aceh
4. Senjata Tradisional
Sama seperti kebanyakan pakaian adat dari provinsi lainnya, pakaian adat
Aceh juga dilengkapi dengan penggunaann senjata tradisional sebagai
pelengkap. Senjata tradisional Aceh atau Rencong umumnya diselipkan pada
lipatan sarung di bagian pinggang dengan bagian gagang atau kepala
menonjol keluar.
Pakaian Adat Aceh untuk Pengantin Perempuan
Pakaian adat Aceh untuk perempuan atau pakaian Daro Baro umumnya
memiliki warna yang lebih cerah dibandingkan pakaian Linto Baro.
Beberapa warna yang biasa digunakan adalah warna merah, kuning, hijau,
atau ungu. Adapun untuk desainnya sendiri, pakaian ini terbilang sangat
Islami dan tertutup. Berikut ini adalah bagian-bagian dari pakaian adat
Aceh Daro Baro tersebut.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/05/pakaian-adat-aceh-nama-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/05/pakaian-adat-aceh-nama-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar